Fahmi Permana Hobi Rebahan - Cita cita menjadi sultan

Ini Kisahku, Diapeli Makhluk Jadi Jadian Dari Sulawesi Selatan (parakang)

Sudah dua tahun aku sakit. Tidak ada perubahan yang signifikan. Segala pengobatan sudah kucoba dari medis, rukiyah hingga perdukunan. ( minta berobat kedukun ini sesungguhnya aku tidak mau karena itu sama saja syirik. Tapi mau tidak mau harus ikut karena orang tuaku sudah capek mencarikanku obat namun tak kunjung sembuh dengan alasan penyakitku bukan penyakit medis tapi akibat santet).

Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter sebelumnya. Aku mengidap maag kronis dan ISPA. Awalnya aku ada di perantauan namun karena sakitku yang tak kunjung sembuh aku putuskan untuk pulang kampung.

Selama aku di kampung penyakit ku semakin parah dan aneh. Setiap aku mencoba untuk menahan napas, ku rasakan dibadan ada tubuh lain yang bernapas pula. Jika aku makan, entah banyak atau tidak tiba-tiba di bagian pusatku berdenyut maka aku akan merasa lapar lagi, seperti ada yang ikut menghabiskan makanan didalam perutku.

Dan, setiap malam tiba selalu ada burung yang berbunyi suara “pok.. Pok..pok” yang melintas di atap rumah maka seketika itu juga jantung ku akan berdenyut kencang, debarannya sangat terasa menghantam dadaku. Di bagian kepala tepatnya ubun-ubun terasa dingin dan kosong rasanya seperti ruhku akan keluar darinya. Aku selalu menutup pakai telapak tanganku jika burung itu selalu berbunyi. Badanku seketika akan menggigil hebat disertai napas yang memburu.

Di siang hari, jika aku berjalan. Badanku terasa sangat ringan dan seolah hanya tubuh tanpa roh, itu karena aku tak merasakan sentuhan ditelapak kaki jika berpijak pada tanah. Rasanya seperti akan jatuh pada lubang jika aku melangkah. Aku pernah dimimpikan ibu bahwa aku keluar dari rumah namun pergi tak jauh hanya berdiri di bawah jendela kamarku.

Saat itu, aku sangat sulit untuk merasakan sedih, bahagia atau marah. Aku seperti mati rasa. Pak imam dikampungku mengobati ku dengan sholat dan membacakan doa-doa ke dalam botol berisi air setelah sholatnya. Dan seketika itu, perlahan aku bisa merasakan badanku seolah terisi kembali.

Dari sekian banyak rentetan peristiwa sakitku, ada satu kejadian yang membuat heboh. Bagaimana tidak ternyata aku sudah “diapeli” PARAKANG selama satu minggu. Setiap tengah malam aku selalu merasa ada orang di bawah kolong rumah.

Dan malam ini, malam jum’at. Aku tidur ditemani ibu. Seperti biasa, ketika sudah tengah malam maka burung yang ku maksud di awal tadi datang lagi dengan suara khasnya. Seketika pada lengan kiriku mulai dingin lagi. Jantungku berdegup kencang. Perutku kosong lagi. Aku membangunkan ibuku untuk mengambilkan nasi. Itulah pertolongan pertama jika aku kambuh. Aku akan makan untuk tetap kuat.

Biasanya ibu akan langsung mengambil nasi, namun malam ini ia ingin buang air kecil di jembatan kecil penghubung dapur yang berada antara rumahku dan rumah paman. Disampingnya ada pohon asam yang tidak begitu besar.

Biasanya ibu akan buang air kecil di toilet tapi entah apa malam itu ibuku BAK nya di jembatan dapur itu. Belum sempat menyelesaikan hajatnya. Sesosok keluar dari arah bawah kolong rumah dan mendongkakkan kepalanya tepat ke arah ibuku. Cahaya bulan yang terang sehingga nampak jelas menyinari sosok itu. Ia berbentuk setengah manusia setengah anjing. Dari kaki hingga bahu masih berwujud manusia namun kepalanya telah berubah menjadi kepala anjing.

Seketika ibuku kaget dan histeris memanggil-manggil nama pamanku. Karena keributan itu sosok tadi berputar kembali ke arah kolong dan melarikan diri. Pamanku yang kaget terbangun dan berlari mengikuti arah parakang. Namun tak dilihatnya lagi. Paman menyenter ke arah kolong hanya menyisakan jejak kaki anjing dan kaki orang dewasa. Di sana juga menyisakan bau busuk seperti hewan tua dengan banyak luka.

Seandainya aku yang berada di jembatan dapur itu, pasti sudah dieksekusinya. Astagfirullah.

Esok harinya, tanah jejak kaki itu diambil dan dibawa pada dukun. Dukunnya bilang lihat saja di tetangga mu cepat atau lambat pasti ada yang meninggal. Benar saja tiga hari kemudian ada yang meninggal.

Setelah semua kejadian itu, aku ingin fokus menyembuhkan diri dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. Aku tidak ingin diobati lagi secara perdukunan.

Alhamdulillah aku sembuh setelah puasa sebulan lamanya.

Avatar
Fahmi Permana Hobi Rebahan - Cita cita menjadi sultan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *